Selasa, 20 Oktober 2015

Ragam Jenis Dedaunan Lokal Asing

Kenali lebih dekat dedaunan lokal dan jadikan sepiring lauk masa kini. 

Daun Beluntas

Wajah Asing Dedaunan Lokal Femina
Daun beluntas bernama latin Plucheacea folium. Daun ini juga populer dengan nama baruntas (Sunda), luntas (Jawa), baluntas (Madura), lamutasa (Makassar), dan lenabou (Timor). Bentuk daunnya bulat telur, berujung runcing, dengan bulu-bulu halus di permukaan daun. Daun yang muda berwarna hijau kekuningan sedangkan yang tua lebih hijau gelap. Pohon beluntas sering ditanam sebagai tanaman pagar atau pembatas di antara gundukan tanah di perkebunan. 
    
Kandungan: alkaloid, natrium, minyak atsiri, kalsium, flavonoid, magnesium, dan fosfor. Kadar minyak atsiri (minyak ethereal oil atau minyak essens pemberi aroma) sebanyak 5%-20% dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus (pemicu infeksi) dan Escherechia coli (penyebab diare). 

Hidangan: Walau rasanya agak getir namun aromanya yang khas membuat daun ini kerap dijadikan campuran sayur berkuah atau dikukus bersama nasi.  

Daun Pohpohan

Hasil gambar untuk daun pohpohan
Daun ini dipetik dari tanaman poh pohan yang bernama latin Pilea trinervia w. Sekilas, daun ini mirip daun gulma yang ada di semak belukar. Daunnya berbentuk seperti daun singkong dengan warna hijau muda hingga hijau kekuningan. Tumbuhan ini banyak ditanam di daerah yang sejuk seperti daerah-daerah pegunungan di Jawa Barat. 
    
Kandungan: daun ini kaya akan vitamin A, B1, dan C serta kalsium. Untuk itu, daun ini cocok untuk membantu dalam mencegah pengeroposan tulang. Kandungan antioksidan di dalam daun poh pohan juga tinggi sehingga dapat menetralisir racun di dalam tubuh. 
    
Hidangan: Aroma yang khas seperti daun mint dan rasanya yang segar, menjadikan daun ini banyak dikonsumsi sebagai lalapan di rumah makan khas Sunda. Terkadang, daun ini juga diolah dengan cara ditumis. 

Daun Putat

Hasil gambar untuk daun putat
Tumbuhan daun bernama latin Planchonia valida ini tumbuh di Malaysia dan Sumatra. Biasanya tanaman ini tumbuh liar dan bisa tumbuh besar di tepian sungai, pantai, dan sawah. Daunnya lonjong dengan ujung runcing, cokelat tua, dan agak tebal. Bagian tepinya bergerigi dengan warna merah keunguan. 

Kandungan: 
Komposisi gizi daun putat cukup banyak. Antara lain, serat kasar, vitamin, dan beberapa mineral (terutama kalsium) yang baik untuk kesehatan pencernaan dan membantu dalam pencegahan penyakit tulang.

Hidangan: 
Rasanya agak masam dan kesat di lidah sehingga banyak dimanfaatkan untuk lalapan bersama nasi hangat dan sambal,  khususnya sambal belacan. Untuk diolah lebih lanjut, biasanya daun putat direbus terlebih dulu hingga empuk lalu diiris tipis dan ditumis bersama bahan lain. 

Daun Kedondong

Hasil gambar untuk daun kedondong
Daun ini didapat dari tanaman kedondong yang bernama latin Spondias dulcis. Di Barat, populer dengan nama Ambarella sedangkan di Filipina dan Myanmar disebut sebagai mokah dan gway. Tanaman ini kerap didapatkan di Asia Tenggara seperti Filipina atau Indonesia. Di Indonesia, populer di Karimunjawa dan Jepara.
    
Helaian daunnya berbentuk jorong atau ovalis dengan tata letak daun tersebar di pohonnya. Ini termasuk daun yang tulangnya menyirip, dengan jumlah anak daun yang berpasang-pasangan. Permukaan daunnya mengilap dan licin, dengan rasa yang agak masam-getir. 

Kandungan: Daun yang muda kaya akan vitamin C dan flavonoid yang baik untuk kesehatan kulit. 

Hidangan: Daun ini biasanya digunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan atau dikukus hingga empuk lalu disantap sebagai lalapan atau sayur. 


sumber artikel: http://www.femina.co.id/kuliner/info.kuliner/wajah.asing.dedaunan.lokal/004/002/872

Tidak ada komentar:

Posting Komentar