Selasa, 13 Oktober 2015

Ragam Jenis Dedaunan Lokal

Kenali lebih dedkat dedaunan lokal yang bisa Anda manfaatkan untuk masakan modern.

Daun Mangkokan

Hasil gambar untuk daun mangkokan
Namanya diambil dari bentuk daun yang mirip mangkuk. Dalam bahasa latin dikenal sebagai Nothopanax scutellarium. Warna daun ini hijau tua, pangkalnya berbentuk hati, dan tepinya bergerigi. Daun mangkokan tumbuh liar di tepi sawah atau ditanam sebagai tanaman pagar.

Kandungan: protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, dan beberapa vitamin seperti vitamin A, B1, dan C. Selain itu, kadar antioksidannya seperti alkaloid, saponin, flavonoid, dan plifenol, juga tinggi.

Hidangan: sebagai lalapan disertai sambal atau menjadi bahan baku masakan tertentu, antara lain gulai ikan (Sumatra), pepes (Jawa Barat), pecel (Jawa Tengah dan Timur), serta dibuat rempeyek. Aromanya khas dan wangi seperti daun kenikir sehingga dimanfaatkan untuk menghilangkan bau anyir pada daging atau ikan.

Daun Kenikir

Hasil gambar untuk daun kenikir
Daun kenikir didapat dari pohon kenikir yang bernama latin Cosmos caudatus. Tanaman ini banyak tumbuh liar di benua Amerika bagian tengah dan tenggara, kemudian dibawa oleh imigran Spanyol ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di Malaysia dikenal sebagai daun ulam raja. Daunnya menyirip dengan bentuk bongkol di ujung batang dan berwarna hijau keunguan.
    
Kandungan: memiliki nutrisi yang cukup banyak antara lain protein, lemak, karbohidrat, kalsium, dan vitamin A. Ada pula asam amino yakni saponin dan flavonoid polifenol  yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Kadar minyak atsiri di dalam daun kenikir juga cukup tinggi sehingga daun ini dapat dimanfaatkan sebagai penambah nafsu makan.
    
Hidangan: khususnya di Sumatra digunakan sebagai campuran sayuran bersantan dan di Jawa, kerap dicampur ke dalam pecel atau urap. Untuk mengolahnya, cuci daun kenikir hingga bersih dan rebus di dalam air mendidih hingga layu. Setelah matang, angkat daun kenikir dan masukkan ke dalam air dingin untuk menghentikan proses pematangan supaya tekstur daun tidak terlalu lunak. 

Daun Laksa

Hasil gambar untuk daun laksa
Daun ini bernama latin Polygonum odoratum. Ada pula yang mengenal daun ini sebagai daun kesum. Daun kesum berwarna hijau gelap, bentuknya lonjong dan panjang, serta tajam di bagian ujung daun. Ukuran daunnya tidak besar, sekitar 1½ – 2 cm x 5  - 7 cm. Susunan daun kesum seperti sirip di antara tulang daun, dengan jumlah 3-5 lembar daun dalam satu tangkai. 

Kandungan: memiliki 
antioksidan tinggi berkat total senyawa fenolik yang cukup tinggi, dan ini dapat menghentikan reaksi radikal bebas di dalam tubuh. 

Hidangan: hadir di dalam masakan Sumatra khususnya Aceh. Daun ini bisa digunakan dalam kondisi segar maupun kering. Daun kesum memiliki aroma khas dan tajam, di antara daun kemangi dan daun salam koja (daun kari) dengan rasa yang agak pedas. 
Biji daun kesum yang pedas konon dijadikan campuran membuat wasabi. Gunakan 10-20 lembar daun kesum untuk masakan yang menggunakan 1 liter santan atau cairan. Selain untuk masakan, iris halus daun ini dan remas-remas airnya guna menghilangkan aroma anyir pada ikan, ayam, atau daging. 


Kenali dedaunan lokal yang bisa dihidangkan dalam masakan sehari-hari. 

Daun Semanggi

Hasil gambar untuk daun semanggi
Nama latin daun ini adalah Marsilea crenata. Daun semanggi juga populer dengan nama green claver. Daun ini diambil dari tanaman paku air jenis Marsilea yang banyak tumbuh liar di pematang sawah, kolam, rawa, atau saluran irigasi. Bentuk daunnya serupa payung yang tersusun dari empat anak daun dengan posisi yang saling berhadapan. Karena bentuk tersebut, daun semanggi sering dijadikan simbol persatuan atau pengikat.
    
Kandungan: Nutrisinya cukup banyak, antara lain protein, serat kasar, lemak dalam jumlah minim, hingga karbohidrat. Di dalam daun ini juga terdapat asam amino yakni flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan gula pereduksi di dalam daun juga bermanfaat untuk meningkatkan aktivitas enzim di dalam tubuh khususnya di dalam saluran pencernaan. Jika dikonsumsi teratur, kandungan isoflavon di dalamnya pun berguna untuk kesehatan reproduksi wanita.
    
Hidangan: Selain disantap mentah atau matang sebagai lalapan, daun semanggi digunakan untuk membuat pecel semanggi khas Surabaya.

Daun Mengkudu

Hasil gambar untuk daun mengkudu
Dalam nama latin disebut sebagai Morinda citrifolia. Namun daun ini juga beken dengan nama keumeudee (Aceh), pace atau kemudu (Jawa), cengkudu (Sunda), dan tibah (Bali). Selain di Indonesia, daun mengkudu juga populer di Myanmar dengan nama ungcoikan dan di Hawaii dengan nama noni. 

Daun ini didapat dari pohon mengkudu yang banyak ditanam untuk diambil buahnya. Daunnya tebal, mengilap, dan berukuran besar. Tepi daun rata, ujungnya lancip, dan urat daun menyirip seperti sirip ikan. 

Kandungan: nutrisi di dalamnya cukup penting, antara lain vitamin A, mineral selenium sebagai antioksidan, serta zat terpenoid yang dapat membantu dalam pencegahan infeksi.

Hidangan: sebagai campuran urap dan bahan baku sambai oen peugaga yakni sambal bercita rasa asam dari cabai hijau, daun mengkudu, kacang tanah, udang, dan kelapa parut.

Daun Bangun-Bangun

Hasil gambar untuk daun bangun-bangun
Nama latinnya adalah Coleus amboinicus. Bentuk daunnya kecil dan memiliki bulu halus di permukaannya. Tumbuhan ini banyak ditanam di daerah tropis seperti India, Ceylon, Afrika Selatan, dan di Indonesia dibudidayakan di Sumatra Utara. Dilihat dari tampilannya, daun ini mirip dengan daun tebal di Sulawesi Utara. Daun ini memiliki perpaduan aroma antara herbal dan sitrus yang tajam. 

Kandungan: minyak atsiri yang cukup banyak. Kandungan zat besi dan beta karotennya juga tinggi sehingga daun ini dapat meningkatkan kadar zat besi dan karotenoid di dalam ASI. Selain itu, daun ini juga mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai sumber antioksidan di dalam tubuh.
    
Hidangan: diolah menjadi gulai layaknya gulai singkong, dibuat sayur bening seperti mengolah sayur bening daun katuk, atau dicampur ke dalam olahan ayam bersama bumbu andaliman. Daun ini mudah sekali layu dan menjadi hitam, untuk itu bungkus dengan kertas saat membelinya di pasar dan langsung olah begitu tiba di rumah. 

Daun Antanan

Hasil gambar untuk daun antanan
Tanaman herbal asli Asia dan sebagian wilayah Australia ini punya nama latin Centella Asiatica. Di dunia, daun ini dikenal sebagai gotu kola sedangkan di Indonesia dikenal beragam sebutan –tergantung masing-masing dearah—di antaranya semanggen atau pegagan. 
    
Antanan merupakan tumbuhan yang menjalar dan selalu berbunga sepanjang tahun. Di Indonesia, hadir dua jenis antanan yakni antanan hijau dan antanan merah. Antanan hijau tumbuh di antara rerumputan di area persawahan, sedangkan yang merah banyak tumbuh di area terbuka. 

Kandungan: mengandung garam mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, natrium, dan zat besi. Ada pula zat tanin atau karotenoid yang baik untuk kesehatan. Konon, antanan dapat digunakan sebagai subtitusi dari ginko biloba yang banyak terdapat dalam suplemen untuk kecerdasan otak sehingga bagus untuk dikonsumsi harian.

Hidangan: Walau rasanya agak getir akibat kandungan zat vellarine namun daun antanan kerap dikonsumsi sebagai lalapan atau dikeringkan seperti daun teh. 


dikutip dari http://www.femina.co.id/kuliner/info.kuliner/dedaunan.lokal.di.dapur.anda/004/002/871 dan http://www.femina.co.id/kuliner/info.kuliner/mengenali.dedaunan.lokal/004/002/870

Tidak ada komentar:

Posting Komentar