Rabu, 08 Juni 2016

Sirop Lokal Segar Wajib Coba!




Foto: Suryo Tanggono, Hermawan, Todi Harianto

 
Manisnya rasa sirop, semanis perjalanannya dari waktu ke waktu di nusantara. Di Indonesia, konon sirop diperkenalkan oleh bangsa Belanda yang pernah menjajah negeri ini. Racikan konsentrat gula ini oleh mereka umumnya digunakan sebagai bahan dasar pemanis pada selai, atau dilarutkan kembali bersama air menjadi minuman panas atau dingin, bahkan sebagai pemanis pada p√Ętisserie. Diadaptasi di negara tropis, sirop di Indonesia lebih disenangi sebagai campuran minuman dan disajikan dingin-dingin.
Salah satu bukti adanya pengaruh Belanda dapat dilihat pada merek sirop populer di ibu kota, yang umurnya sudah cukup ‘tua’, yaitu sirop Sarangsari. Sirop dengan botol hijau mirip botol bir ini punya tulisan pada kemasannya yang tidak berubah sejak 76 tahun lalu, yaitu Limonadestroop (sirop limun, dalam bahasa Belanda). Cikal bakal sirop Sarangsari ini bermula dari De Wed Biljsma, pengusaha asal Groningen, Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada tahun 1934.

Ketika pada pemerintahan orde lama, semua perusahaan Belanda di Indonesia dinasionalisasi. Merek De Friesche Boerin diubah menjadi Sarangsari. Gambar pria Belanda yang menghiasi kemasannya pun diganti dengan gambar wanita penari Bali yang khas Indonesia. Hingga kini, sirop Sarangsari masih eksis di pasaran. Pabrik pertamanya yang terletak di Jl. Cikini Raya No. 77, Jakarta Pusat, kini pindah ke daerah Cimanggis karena adanya perluasan usaha yang membutuhkan lahan yang lebih besar.

Walau terkesan mudah, sesungguhnya membuat sirop tidak bisa sembarangan. Yang pasti, untuk menghasilkan rasa manis yang pekat, digunakan perbandingan gula yang jauh lebih tinggi daripada air, yakni  umumnya 1,8 kg gula pasir, direbus bersama 1,5 L air. Larutan ini mengental karena melalui proses pemanasan tinggi. Dalam proses simpel ini, lahirlah istilah kuliner simple syrup.  Untuk membuat sirop yang berwarna dan beraroma, ditambahkan sari buah, pewarna, dan pemberi rasa.

Perlahan namun pasti, sirop-sirop lokal buatan Indonesia pun bermunculan sebagai bagian dari identitas  sebuah daerah. Hingga kini, keberadaannya tidak tergilas oleh kehadiran sirop-sirop komersial buatan pabrik besar. Berikut ini beberapa sirop daerah yang berhasil ditemukan di pasar-pasar Jakarta.
 
1/ Sirop Kawis Cap Dewa Burung (Rembang)
Terbuat dari buah kawis, yaitu buah sebesar bola tenis yang hanya tumbuh di daerah Rembang, Tuban, atau Blora. Jika sudah tua, buahnya akan berwarna cokelat kehitaman dan berkulit keras. Sirop kebanggaan Kota Rembang ini rasanya sedikit mirip cita rasa sarsaparilla, hanya lebih sepat dan getir. Jika ingin diencerkan, sirop harus dikocok dulu untuk menghilangkan aroma seperti gas yang ada di dalam botol.

Sekitar tahun 1952, M.E. Heriyati yang mewarisi perusahaan limun Djago dari ayahnya, Njo Tiam Kiem, mencicipi buah kawis yang ada di sekitar rumahnya di Jl. Diponegoro, Rembang. Kemudian ia terinspirasi untuk meracik buah kawis yang bercita rasa sepat, manis, dan berbau agak menyengat ini, menjadi sirop yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, sirop buah kawis lalu menjadi seperti yang diharapkan sekarang.
 
2/ Stroop Asem Akar Sari (Solo)
Lebih banyak memproduksi sirop dengan cita rasa lokal dan yang berhubungan dengan kesehatan. Di antaranya adalah sirop rasa asam dari buah asam, sirop jahe, dan sirop beras kencur. Sirop yang dihasilkan umumnya bercita rasa moderate, artinya tidak terlalu pekat rasa asam atau jahenya.  Sajikan sirop-sirop ini dengan air dan es batu. Hmmm…segar!
 
3/ Sirop Special Pulau Seribu (Kepulauan Seribu)
Sirop buatan Kepulauan Seribu, dalam beberapa varian rasa. Salah satunya adalah varian sirop manalagi. Saat dicium, terasa aroma pandan yang cukup kuat. Warna siropnya pun cantik, pink agak keunguan.
 
4/ Sirop Cap Bangau (Tangerang)
Sepertinya, sirop ini masih bersaudara dengan kecap yang sekarang sudah melegenda. Dibuat sejak tahun 1938 di Tangerang. Berwarna bening, dengan jejak rasa vanili. Rasa  manisnya tidak membuat leher sakit karena terkena imbas gula buatan.
 
5/ Sirop Markisa Cap Bintang Dunia (Makassar)
Termasuk oleh-oleh wajib yang selalu dijinjing wisatawan, jika pulang berwisata dari kota angin mamiri ini. Terbuat dari sari buah markisa dengan ciri aroma yang harum dan rasa yang sedikit tajam. Khas dengan warna kuning cerah dan kental.


6/ Sirop terong belanda cap Sarang Tawon (Brastagi) Buatan kota pegunungan Brastagi, Sumatra Utara. Menggunakan buah khas daerah ini, yaitu terung belanda, yang cita rasa khasnya adalah agak sepat. Namun, karena sudah diolah menjadi sirop, rasa sepatnya sirna, tergantikan oleh rasa manis gula. Ronanya pun cantik, merah keunguan.
7/ Specie Limonade – Siroop (Medan) Sirop buatan Medan, Sumatra Utara. Varian raspberry yang dicicipi mempunyai aroma raspberry yang sangat khas, sedikit asam. Warna siropnya merah dan cairannya tidak terlalu kental.
8/ Sirop Cap Sarangsari (Jakarta)
Khas berlogo wanita Bali mengenakan gelung (sunting Bali). Banyak varian yang dibuat oleh sirop hasil nasionalisasi dari perusahaan Belanda pada tahun 1959 ini. Salah satunya adalah jeruk keprok. Warna siropnya kuning muda dan tercium aroma jeruk keprok yang intens.
9/ Sirop Cap Buah Tjampolay (Cirebon)
Didirikan sejak 11 Juli 1936 oleh Tan Tjek Tjiu di Cirebon. Sirop legendaris dari Cirebon ini mempunyai bentuk botol dan label yang sama sejak pertama kali diproduksi. Varian terfavorit adalah pisang susu dengan aroma vanili yang terdeteksi samar-samar.
 

10/ Sirop Nine (Bandung) Sirop buatan Bandung ini punya varian yang cukup banyak, di antaranya adalah moka, rose, atau vanili. Untuk varian rose, tercium aroma bunga mawar yang kuat. Siropnya tidak terlalu pekat dengan warna merah yang cantik.

Tip Menyimpan Sirop
Jika telah dibuka, simpan sirop di dalam lemari es. Tutup rapat-rapat dan seka bagian mulut botol agar tak ada sisa sirop tertinggal yang bisa menyebabkan tumbuhnya jamur.


dikutip dari http://www.femina.co.id/food-review/sirop-segar-khas-indonesia , http://www.femina.co.id/food-review/5-sirop-lokal-segar-wajib-coba-ii-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar